Bulan Kasih Sayang bukan cuma tentang bunga dan makan malam romantis. Bagi sebagian orang, Valentine justru menjadi ruang untuk mengingat, tentang seseorang yang pernah ada, percakapan yang belum selesai, hingga rindu yang diam diam masih tinggal.
Jika kamu mencari lagu yang mampu menemani momen reflektif itu, “Shooting Star” dari Eileen Pandjaitan yang dikenal dengan nama panggung Ei, bisa jadi jawabannya.
“Shooting Star” bukan sekadar pop ballad biasa. Lagu ini terasa seperti surat yang tak pernah sampai, jujur, intim, dan menghantam pelan pelan. Ia berbicara tentang kehilangan yang belum benar benar usai, tentang seseorang yang terus kembali ke tempat yang sama di waktu yang sama dengan harapan sederhana, mungkin ada keajaiban kecil yang membawa yang dicinta pulang kembali.
Di tengah perayaan Valentine yang identik dengan lagu lagu cinta manis dan penuh harapan, “Shooting Star” hadir sebagai pengingat bahwa cinta yang dalam tak selalu memiliki akhir yang rapi. Kadang cinta justru hidup dalam bentuk doa yang dipanjatkan diam diam setiap kali melihat bintang jatuh di langit malam.
Ei menyebut lagu ini sebagai ruang yang sangat personal. “Shooting Star itu semacam percakapan batin yang nggak pernah sempat tersampaikan,” ungkapnya.
Dari sisi produksi, “Shooting Star” dirancang dengan pendekatan minimalis dan intim. Tidak banyak lapisan instrumen yang ditumpuk dan tidak ada dramatisasi berlebihan. Keputusan ini memberi ruang bagi warna vokal lembut Ei untuk benar benar berbicara. Hasilnya adalah pengalaman mendengar yang terasa dekat, seolah Ei sedang duduk di seberangmu dan membacakan isi hatinya tanpa topeng, tanpa dibuat buat, hanya kejujuran yang mengalir pelan namun dalam.
Lahir pada 2003, Ei tumbuh sebagai singer songwriter dengan proses kreatif yang sangat personal. Saat ini ia menempuh pendidikan di Berklee College of Music melalui jalur beasiswa, sebuah capaian yang menegaskan keseriusannya dalam bermusik. Kedalaman rasa yang ia tawarkan terasa matang dan tulus, melampaui usianya.
“Shooting Star” bukan lagu yang memaksa pendengarnya untuk segera move on. Lagu ini justru hadir sebagai teman untuk mengakui bahwa perasaan itu masih ada, bahwa rindu tidak selalu harus diselesaikan. Kadang cukup dirasakan perlahan sambil menatap langit dan berharap pada satu bintang yang jatuh.

