Kehilangan tidak selalu berarti harus melupakan. Ada kalanya, kenangan justru menjadi sesuatu yang tetap kita simpan, meski sosok dan cerita di dalamnya sudah tidak lagi hadir dalam kehidupan.
Gagasan tersebut menjadi napas utama “Museum Duka”, single terbaru dari for Revenge yang mempertemukan mereka dengan YB (Reza Arap) dan Tepe.
Kolaborasi ini berawal dari pertemuan kreatif ketiganya setelah tampil bersama membawakan “Serana” dan “Penyangkalan” dalam sebuah festival. Momen tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah ide kolaborasi yang diinisiasi oleh YB melalui Boniex, vokalis for Revenge.
Bagi for Revenge, pertemuan ini menjadi pengalaman yang istimewa sekaligus tantangan tersendiri. Menyatukan karakter musik for Revenge, YB, dan Tepe dalam satu lagu membuat proses kreatif “Museum Duka” memiliki warna yang berbeda.
“Buat kami itu suatu kehormatan. Terlebih menyatukan for Revenge, YB, dan TePe dalam sebuah lagu menjadi tantangan tersendiri,” ungkap Boniex.
Kehadiran Tepe dalam kolaborasi ini juga memiliki cerita tersendiri. Sebelumnya, ia beberapa kali tampil bersama for Revenge sebagai drummer. Intensitas pertemuan tersebut kemudian membangun hubungan personal yang kuat di antara mereka.
Menurut Boniex, tanpa kehadiran Tepe, pertemuan antara for Revenge dan YB mungkin tidak akan terjadi.
Dalam proses produksinya, Boniex dan YB terlibat dalam penulisan lirik, sementara Tepe mengisi posisi drum. Aransemen lagu turut dibantu oleh Faisal Riant, yang sebelumnya juga terlibat dalam proyek for Revenge “I Miss You Every Brand New Day”.
Tentang Ruang yang Menyimpan Kehilangan
“Museum Duka” lahir dari gagasan tentang bagaimana setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menghadapi kehilangan.
Proses penulisannya pun berlangsung secara dinamis, dengan Boniex menerjemahkan gagasan yang dibawa YB hingga keduanya mengembangkan lirik mengenai kehilangan dan cara manusia memproses duka.
“Setiap orang punya ‘Museum Duka’-nya masing-masing. Setiap orang punya ruangan untuk menyimpan cerita, wajah, dan versi diri yang pernah kita kenal begitu dalam,” ujar Boniex.
Bagi YB, “Museum Duka” merupakan gambaran tentang tempat personal yang dimiliki setiap orang untuk menyimpan sosok atau kenangan yang telah pergi. Tempat tersebut bisa berada di dalam hati, sebuah ruangan, atau bahkan benda-benda yang masih sengaja disimpan.
Ketika rasa rindu datang, seseorang bisa kembali mengunjunginya, membuka kembali kenangan yang pernah menjadi bagian dari hidup.
“Lagu ini bukan cuma tentang gue, bukan cuma tentang for Revenge. Kami berusaha mewakili mereka yang juga merasa kehilangan,” tutur YB.
“Museum Duka” juga menjadi pengalaman baru bagi YB. Untuk pertama kalinya, ia bernyanyi menggunakan bahasa Indonesia sekaligus berkolaborasi dengan sebuah band.
Karakter vokalnya memberikan warna baru dalam musik for Revenge, sementara permainan drum Tepe menjadi elemen yang memperkuat perpaduan karakter ketiganya.
Bukan Untuk Melupakan
Alih-alih mengajak pendengar melupakan orang atau sesuatu yang telah pergi, “Museum Duka” justru menawarkan sudut pandang lain tentang kehilangan. Duka tidak harus dihapus dari ingatan agar seseorang bisa melanjutkan hidup.
Ada kenangan yang memang akan selalu tinggal. Yang berubah adalah cara kita berdamai dengannya.
“Duka bukan tentang melupakan, melainkan tentang belajar melepaskan tanpa harus berhenti mengenang,” kata Boniex.
Lewat “Museum Duka”, for Revenge, YB, dan Tepe mencoba menghadirkan sebuah ruang emosional yang mungkin terasa familiar bagi banyak orang.
Sebuah tempat untuk kembali sejenak, mengingat apa yang pernah ada, lalu perlahan belajar untuk melanjutkan perjalanan.
Single “Museum Duka” telah tersedia di berbagai platform musik digital sejak 4 September 2026. Bersamaan dengan perilisan single, video musiknya turut menghadirkan pengalaman visual yang teatrikal dan emosional untuk menerjemahkan tema kehilangan yang menjadi inti lagu.
Pada akhirnya, “Museum Duka” bukan tentang seberapa lama seseorang tinggal di masa lalu. Lagu ini tentang bagaimana kenangan tetap bisa memiliki tempat, tanpa harus menghalangi langkah untuk terus berjalan.

