strange Fruit

Band Electronic Pop Strange Fruit Keluarkan Single “Monopolar”

Band Electronic Pop Strange Fruit mengeluarkan single terbaru berjudul “Monopolar” dengan nuansa alunan hipnotik seperti terjaga di ambang batas sadar dan mimpi.

Gerak suara melambat, tergiring menuju suatu orbit yang disebut penyintesis Irza Aryadiaz dengan, “multiverse baru—layaknya dimensi film-film skor, kita terhisap masuk ke dalamnya.” Pengertian monopolar sendiri bila dijelaskan secara audio dapat disimpulkan sebagai sumber bunyi yang memancarkan radiasi merata ke seluruh penjuru arah.

Menawan sebagaimana “Iridescent”, single pertama yang anggun membuahi tangkai-tangkai imaji, “Monopolar” dibangun berdasarkan soundscape para komposer musik elektronik yang memberi sentuhan avant-garde pada konstelasi kosmische naungan Grandmother Moog.

Diakui Irza Aryadiaz, tekstur noise arpeggiator-nya banyak dirangsang oleh audiologis macam Raymond Scott atau Bruce Haack yang kental dengan elemen muzak atau sang suhu modular Mort Garson, termasuk menyerap nuansa haunt Focus Group beserta segenap roster Ghost Box Records, juga mengimplan doping wajib disco-robot Kraftwerk. Strange Fruit tengah menggoda saraf ganjil sebuah tembang dansa metropolis agar-supaya-dapat ‘mengambang panjang sampai ke dasar lambung.’

Tambahan petikan maestro glitch Jan Jelinek dan gulungan ambient wall-of-eerie gubahan Wendy Carlos menjelmakan “Monopolar” serupa sonic boom, ketika otak kita melesat melebihi speed of sound, hantu electronic Strange Fruit: gelombang low frequencies, dream pop yang menyeret serpihan vokal Baldi Calvianca keluar membius, berpendar dan bergetar kala desibel tremolo menerbangkannya tenggelam ke lintasan Screamadelica. Tak kuasa menahan gemulai gairah trip-dance acid house yang banjir di sekujur peluh.

‘. . .feel nothing-less you made me feel like I can fly
dream-dreamers. . . you made me feel like I can fly.’

“Sureal,” tukas Baldi Calvianca coba mengurai maksud nyanyiannya. “Ini sebenarnya lagu uring-uringan. Mood yang aneh dan absurd. “Monopolar” ibarat kegelisahan yang dipendam, aktivitas ketika sedang berdialog sama diri sendiri. Tentang memelihara mimpi dan harapan di tengah dunia yang menggelap.”

Bagi Strange Fruit, band mitos yang akhirnya kembali ke scene pasca samar selama 10 tahun, tujuan menulis lagu bukan lagi dimaksudkan untuk mewakili perasaan orang lain atau bisa dinyanyikan oleh umat sekalian, cut that bullshit. . . Baldi Calvianca dan Irza Aryadiaz, duo think-thank sekaligus penulis lagu utama, pendiri awal + personel orisinal yang tersisa, kompak bila stimulus penyelesaian “Monopolar” beserta tiga lagu lain di EP Drips adalah upaya penggalian, eksperimentasi demi mewujudkan ‘terang yang mereka dambakan’, untuk melahirkan musik yang tidak pernah orang lain dengar sebelumnya.

Kata Irza Aryadiaz: “Gue punya input musikal yang luas, sudah pasti menginginkan output yang luas pula. Dengan perjalanan yang telah Strange Fruit lalui, dengan semua musik yang telah kami dengarkan, kepuasan menulis musik cuma bisa dicapai kalau kami mampu – berhasil menemukan sesuatu yang baru, musik yang belum pernah dimainkan umat manusia. A genre bender that never heard before..”

Sementara Baldi Calvianca menekankan dengan lebih tegas. “Itulah alasan kenapa Strange Fruit selalu ingin menulis musik yang akan membuat kalian heran, bertanya-tanya. Musik yang beda dengan orang lain.”

Jika sinematis adalah starter pack bagi setiap perbendaharaan band psikedelik, maka sensor motorik merupakan horizon yang membuka cakrawala pupil mata. Rumus tripping nomor satu: ‘tahan terus’ pada gejolak monotonisme. Dan Strange Fruit mengawalinya sejak menulis “Monopolar”, memulai eksplorasi musik electronic dari sebuah band noise pop hingga menjadi satu unit elektroda sintetis. Inilah tembang cetak biru pencapaian synth-pop yang akan mengusili kalian dengan delirium dreamers dream, untaian ambient manis produk shoegazer, lima anak bandel asuhan Tom Furse dan ekstatik drone.

Perilisan “Monopolar” sekaligus dibarengi sebuah movie video yang dikerjakan di studio PasMing Experience oleh duo movie maker Mellow Spice yang memperlakukan kamera layaknya instrumen musik, dengan menggabungkan pengalaman hipnotik perairan biru Samudera Hindia dan disorientasi distorsi optik yang mewujudkan performa sebuah band rock & roll di dunia nyata dan mimpi di dalam kepala kelima personil Strange Fruit.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *